Untuk pertama kali Malaysia menyelenggarakan art fair. Berbagai galeri internasional kontan merespons dengan girang-gembira. Sejumlah perupa diundang secara istimewa. Mengapa Negeri Jiran itu¡ªyang tak begitu diperhitungkan dalam kancah seni rupa global, bahkan di tingkat Asia sekalipun¡ªsanggup menyukseskan dengan sebenar-benarnya hajatan seni yang merangkum wacana dan dagang? Pelukis dan pematung Antonius Kho¡ªsatu-satunya seniman Indonesia yang diundang secara istimewa
tersebut¡ªmelaporkan langsung dari Melaka International Trade Centre (MITC), Ayer Keroh. Melaka, Malaysia.
MALAYSIA akhirnya angkat bicara juga dalam ranah seni rupa. Negeri Jiran yang mengklaim bingkai
turisme nasionalnya dengan semboyan "Asia yang sebenar-benarnya" itu, untuk kali pertama, membuka
mata dunia (khususnya peminat seni rupa global) dengan menyelenggarakan "Art Asia: 1st Malaysia
World Art-Tourism Expo 2006" sepanjang waktu 9-13 November 2006 di Melaka International Trade Centre
(MITC), Ayer Keroh, Melaka.
Jauh sebelum acara tersebut secara resmi dibuka, segala persiapan menuju Art Malaysia sungguh-
sungguh diperhitungkan dengan cermat, mulai dari persiapan administrasinya, stand-stand dengan
sistem knock down dibangun dengan rapi dan kukuh, perhitungan kerjasama dengan hotel, seniman,
galeri dan instansi terkait dibuat secara tegas, jelas, konsisten dan berbadan hukum. Media-media di
sana juga mendukung, baik sebelum, sedang maupun pasca-Art Asia berlangsung.
Semua hajatan seni dan perdagangan seni Art Malaysia itu berpusat kepadasebuah lembaga kesenian
Malaysia bernama Dunia Seni Lukis Sdn Bhd, semacam instansi independen dalam bidang seni lukis.
Lembaga inilah yang menjadi penggerak utama Art Malaysia ini. Anehnya, di lembaga ini, baik struktur
pengurusnya maupun anggotanya, tak ada seniman. Yang ada ialah orang-orang dengan jiwa enterpreneur
(wirasuasta). Paling banter yang bisa masukdalam lembaga ini adalah pengamat seni atau kurator (yang
bukan pelukis).
Belum dapat diperoleh keterangan secara mendalam mengapa justru di dalam tubuh Dunia Seni Lukis Sdn
Bhd itu tak ada perupa. Hanya kemungkinannya barangkali pelukis-pelukis di Negeri Jiran itu memang
menyadari apa arti menjadi profesional dan konsisten. Menjadi pelukis ya melukis, bukan menjadi
anggota organisasi sekalipun itu organisasi seni. Kemungkinan yang lain ialah barangkali lembaga ini
tahu bahwa seniman itu lebih banyak bersandar kepada mood, sementara organisasi sangat menjauhkan
keadaan itu.
Jika dua kemungkinan itu memang benar, pantaslah mengapa Art Malaysia dapat berjalan sesuai rencana.
Tak ada ribut-ribut, tak ada polemik yang menjatuhkan, tak ada kerja organisasi amburadul
sebagaimana yang sering terjadi di negeri kita; sesama seniman saling bahu-membahu, percakapan
estetik di kalangan seni berlangsung dengan sehat dan dewasa, media di sana juga mendukung secara
proporsional. Pendeknya, istilah TVRI, menjunjung persatuan dan kesatuan, terjadi dalam hajatan Art
Malaysia tersebut.
Yang paling penting ialah dukungan pemerintah. Sebagaimana diketahui, Negara Malaysia sangat
mendukung warganya secara penuh dalam bidang intelektual, seni dan budaya. Konon bagi warganya yang
berprestasi (dalam bidang apapun), dipertaruhkan penuh oleh negara, ditanggung penuh kehidupan dan
pendidikannya! Bahkan dipertaruhkan pula ke luar negeri untuk bersekolah. Hal serupa ini juga
belakangan dilakukan oleh China.
Art Malaysia, sebagai hajatan seni, keterlibatan pemerintahtidaksetengah-setengah. Mereka menganggap
kegiatan yang berskala dunia ini tak bisa dilepaskan begitu saja, dan memang karenanyalah harus
dibantu. Perdana Menteri Malaysia Dato'SeriAbdullah Haji Ahmad Badawi, dalam sambutan tertulisnya
mengungkapkan dukungan penuhnya atas event seni ini. Bagi sang Perdana Menteri, event ini sangat
penting artinya bagi Malaysia. "Saya yakin is akan menaikkan imej Negara Malaysia di mata dunia,"
ungkap Perdana Menteri Malaysia tersebut.
ART Malaysia diikuti para perupa dan galeri dari seluruh dunia, di antaranya Kuba, China, Korea,
Singapura, India, Rusia, Indonesia, Jepang, Philipina, selain Malaysia sendiri. Jika galeri harus
menyewa sebuah stand berukuran 3 m X 4 m dengan harga sewa $2.500 US sepanjang expo ini, maka perupa
tidak menyewa stand, melainkan dipotong komisisebesar35% jika ada lukisan yang laku. Sementara
galeri, karena mereka telah menyewa stand itu, tidak dipotong komisi jika lukisan-lukisannya laku.
Dan aturan itu cukup fair. Diperkirakan hingga akhir expo ini, transaksi karya-karya seni mencapai
angka miliaran rupiah.
Panitia juga tidak ikut campur dalam menentukan harga lukisan. Harga-harga lukisan sepenuhnya ada di
tangan pelukis maupun pemilik galeri. Harga lukisan paling rendah di expo ini adalah 2.000 ringgit
dengan ukuran 30 cm x 40 cm. Baik pemilik galeri maupun pelukis juga menjual print dari lukisan-
lukisan yang dipajang dengan harga 150-2000 ringgit. Int dimaksudkan agar masyarakat umum dapat
membelinya. Print-print itu dibuat terbatas. Dan memang masyarakat di sana banyakjuga yang membeli
hasil print ini dengan harga-harga yang terjangkau.
Selain dikunjungi masyarakat di Malaysia, Art Malaysia juga banyak dikunjungi tuns, ekspatriat, para
pecinta seni di seluruh dunia. Beberapa pengusaha dan pemilik galeri dari Jakarta yang juga gemar
berburu lukisan juga "kepergok" lalu lalang di Art Malaysia ini. Mereka dengan antusias mencermati
setiap stand demi stand kalau-kalau memang ada lukisan yang pantas dibeli dan dikoleksi.
Stand dibuat dengan aluminium, dibuat berjejer rapi. Segala keperluan men-display lukisan atau
patung sudah ada di situ seperti lampu, tempat menggantung lukisan, lantai dilapisi karpet dan
sebagainya. Setiap pagi lantai karpet itu ada yang membersihkan, sehingga stand selalu dalam keadaan
rapi dan bersih. Dan sepanjang expo ini, panitia selalu ada di tempat untuk menyiapkan atau
mengantisipasi keadaan pameran jika memang dibutuhkan. Begitu sempurna padahal ini kali pertama
mereka melaksanakan event besar seperti ini.
Pada saat pembukaan pun, banyak pejabat negara yang hadir, termasuk Perdana Menteri Malaysia sendiri
yang kebetulan didaulat meresmikan Art Malaysia hi. Sehabis meresmikan Art Malaysia, beliau
taklangsung pulang sebagaimana pejabat-pejabat di sini, melainkan bergabung dengan pemilik galeri,
seniman dan undangan lainnya, makan malam bersama, melihat-lihat lukisan dan menyediakan cukupwaktu
untuk berbincang-bincang dengan seniman, pemilik gated dan undangan lainnya. Kentara sekali betapa
Perdana Menteri memang memiliki kepedulian dan seleraterhadap seni rupa.
Anehnya, sepanjang Art Malaysia berlangsung, begitu banyak pengunjung setelah pembukaan. Ada
mahasiswa-mahasiswa seni, pengusaha masyarakat awam. Mereka juga rajin bertanya-tanya tentang seni
rupa yang dipajang sepanjang stand-stand yang ada. Para pelukis maupun pemilik galeri dengan senang
hati membagi pang eta huannya berbincang-bincang dengan pengunjung. Sejumlah gated, sambil
menjelaskan, juga dibantu dengan lap top untuk mendukung penjelasan mereka.
Masing-masing stand memperIlhatkan karya seni dari negara-negara yang bersangkutan, baik mengenai
perupa mudanya maupun senior-seniornya. Dilihat dan tipikal masing-masing stand, kiranya publik
dapat merasakan nuansa kesenian negara-negara yang bersangkutan walau pada umumnya seniman-
senimannya mengusung kesenian modern atu kontemporer. Sehri-hri kebanyakan stand dipadati dengan
pertanyaan-pertanyaan publik yang ingin tahu mengenai para seniman yang lukisannya di pajang di
stand-stand tersebut. Ada 130 stand yang bisa dikunjungi publik, dan itu cukup banyak yang bisa
diketahui tentang seni rupa baik dari Malaysia sendiri maupun luar negeri. Selain stand, pihan
panitia juga membangun kafe-kafe dan kios-kios souvenir di area expo ini. Ada 16 kale yang
menyediakan berbagai masakan dan minuman, sehingga kelelahan mengunjungi 130 stand pameran itu dapat
diakhiri di kale-kale tersebut.
Sepanjang event ini, para seniman rupa dad berbagai negara itu juga sating kunjung-mengunjungi stand
satu sama lain. Mereka berbincang tentang seni, tapi yang terutama ialah apresiasi mengenai
perkembangan seni mutakhir di negara masing-masing. Sesama seniman begitu toleran, pengertian dan
membagi pengetahuan antarsesama mereka, dan tak ada yang merasa superior satu atas yang lain. Di
sini para seniman' terasa sekali bersatunya sebagi komunitas seni dunia, dan merasa meski bukan di
negara sendiri, namun event ini mereka anggap sebagai "hajatan bersama" dan karena itu hams
disukseskan.
ART Malaysia, walaupun menyertakan perdagangan karya seni di dalamnya, pada prinsipnya merangkum
banyak hal; wacana, pasar, publik dan keterlibatan pihak-pihak di I uar kesenian seperti pemerintah,
pengusaha dan pelaku-pelaku management. Yang penting dari peristiwa ini ialah bagaimana menaruh rasa
hormat kepada masing-masing peran, dan itu sangat kelihatan di expo ini. Seniman mengusung
keseniannya, galeri dengan peran informasi dan perdagangan, pemerintah dengan segenap dukungan
riilnya, publik memanfaatkan peristiwa itu sebagai ranah apresiasi. Sejauh itu Malaysia sanggup
melakukan itu tanpa pertengkaran yang berarti.
Sukses mereka menyelenggarakan peristiwa kesenian dengan skala intemasional ini membuat mereka
berencana melanjutkan di tahun depan pada bulan yang sama. Keinginan itu denganterang-terangkan
diungkapkan Direktur Balai Seni Lukis Negara Malaysia DR Saharudin Haji Ismail. "Semoga Dunia Seni
Lukis Sdn Bhd dapat meneruskan acara serupa ini di tahun-tahun mendatang," ungkapnya. Menurutnya,
begitu banyak yang dapat dipetik manfaatnya acara seperti ini, di antaranya yang terpenting ialah
seni rupa dunia akan mengarahkan matanya pada seni lukis Malaysia.
Dan tahun 2007 nanti Art Malaysia akan diselenggarakan lagi dalam bentuk yang lebih akbar karena
dikaitkan dengan "Tahun Melawat Malaysia", di mana Art Malaysia selain menjadi peristiwa penting
kesenian intemasional, juga menjadi agenda destinasi dalam Tahun Melawat Malaysia tersebut. Bahkan
konon sejak had ini perencanaan itu sudah dibicarakan.
Antonius Kho adalah pelukis dan
pematung, tinggal di Ubud, Bali, satu-satunya
seniman anal Indonesia yang diundang dalam
Art Malaysia, 9-13 November 2006